.post-body { line-height:1.8em; letter-spacing: 1px; }
Haul Mbah Sambu di Lasem

Haul Mbah Sambu di Lasem

Jejak Sejarah Mbah Sambu di Kota Lasem Menyusuri pusat kota Lasem - Jawa Tengah, ada sebuah bangunan masjid yang cukup besar, indah dan megah. Banyak yang berkunjung ke masjid itu untuk beribadah dan beristirahat sejenak. Ada juga yang mempunyai tujuan khusus yaitu berziarah ke Makam Mbah Sambu, tokoh legendaris di daerah yang terkenal dengan keindahan Batik Lasem-nya ini. Ternyata, di bagian belakang masjid ini terdapat makam Mbah Sambu. Makam itu berada dalam bangunan yang unik , indah dan artistik. Ada nuansa bangunan ala Tiongkok yang berpadu dengan budaya Jawa yang menghiasi arsitekturnya. Di dalam naungan bangunan itu, makam Mbah Sambu berada di dalam ruangan yang bentuknya menyerupai kubah yang diberi warna emas dan warna tembaga. Pada bagian pintunya terdapat papan nama yang bertuliskan Makam Mbah Sambu - Sayyid Abdurrohman. Sedangkan makam Mbah Sambu itu sendiri berselubung lembaran kain berwarna putih yang menyiratkan suasana sakral. Makam istri Mbah Sambu yang juga berselubung kain putih berdampingan dengan makam Mbah Sambu. Nuansa sejuk terasa di dalam ruangan makam ini karena digunakannya keramik yang berwarna hijau pada dinding dan lantainya. Dengan penelusuran data , Mbah Sambu memiliki nama asli Sayyid Abdurrahman Basayaiban dan wafat 1671. Beliaua dalah putera Pangeran Benawa, putera dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya , Raja dari Kerajaan Pajang yang merupakan cikal bakal Kerajaan Mataram Islam. Menantu Sultan Trenggono Raja Kerajaan Islam Demak. Mbah Sambu dikenal berjasa dalam meredam aksi perompak yang menimbulkan kekacauan yang berlarut-larui di pusat kota Lasem. Wilayah Lasem saat itu meliputi Sedayu Gresik, Tuban, Rembang, Pati sampai Jepara. Atas jasanya itu Mbah Sambu yang juga menantu Adipati Lasem diberi tanah perdikan meliputi lokasi Masjid Jami’ Lasem sekarang di Kec.Lasem sampai ke selatan di Kec.Pancur. Mbah Sambu juga berhasil mengusir Kompeni VOC dari Rumah Gedong yang bermarkas di Kauman Desa Karang Turi. Setelah kosong dikuasai Mbah Sambu memberi kesempatan menempati sementara kepada warga termasuk yang berstatus Boro ( mencari kerja ) selama tidak mampu membeli rumah atau kontrak. Ada sebuah tradisi tahunan di makam ini yaitu Haul Mbah Sambu untuk mengenang sejarah dan perjuangan Mbah Sambu. Kegiatan itu dipusatkan di kompleks Makam Mbah Sambu dan Masjid Agung Kota Lasem. Bebergai kegiatan diadakan untuk menyemarakannya seperti karnaval budaya, Batik Lasem Festival, khitanan massal, istighotsah, napak tilas sejarah, pentas kesenian dan sebagainya. Artikel berikutnya »
Klenteng Gie Yong Bio

Klenteng Gie Yong Bio

Bercerita tentang kota Lasem, tak lengkap jika saya tak menceritakan tentang sejarah bagaimana kota kecil ini begitu terkenal di tahun 1700an, dan hal ini ditandai dengan berdirinya klenteng Gie Yong Bio di sebuah sudut jalan desa Babagan, Lasem. Klenteng yang berdiri diantara rimbun pepohonan ini adalah saksi betapa eratnya hubungan orang asli Indonesia/pribumi dengan orang Tionghoa, percaya atau tidak hubungan baik orang pribumi dengan orang Tionghoa di Lasem sangat berbeda dengan kota lain di Indonesia, yang pernah saya temui. Awalnya saya tidak percaya dengan kata seorang teman saya yang tinggal di Lasem, “kamu akan merasakan sendiri, bagaimana berinteraksi dengan orang Tionghoa yang sudah lama tinggal di Lasem,” ucapnya. Benar saja, disini orang Tionghoa tidak menutup dirinya untuk bersosialisasi dengan orang pribumi. hubungan mereka layaknya teman lama atau sahabat. Klenteng Gie Yong Bio dibuat tahun 1780 untuk menghormati 3 pahlawan yang berjuang melawan VOC di tahun 1742-1750, yaitu Oei Ing Kiat, Panji Margono dan Tan Kee Wie. Panji Margono, seorang pribumi, semasa hidup sampai sepeninggalnya dianggap sebagai penyelamat bagi warga Tionghoa. Panji Margono, mengajak orang-orang Pribumi menyelamatkan orang-orang Tionghoa yang saat itu diusir dan dibuang kelaut oleh VOC. atas jasanya, membuat warga Tionghoa, membuat altar khusus untuknya di dalam klenteng ini. Klenteng Gie Yong Bio ini terakhir dipugar di tahun 1915! Melihat ke dalam klenteng ini, kira dan kanan tembok di ruang masuk, terlihat ukiran tembok sangat indah, membentuk sebuah cerita. Sayangnya sampai saat ini belum ada yang meneliti apa makna dari cerita tersebut. warna-warni kain berwarna merah yang terpanjang di depan altar dan sebagai aksen lampion/lampu di klenteng ini, merupakan warna merah menyala khas Tionghoa, yang warna tersebut diaplikasikan di kain batik khas Lasem. Artikel berikutnya »
Vihara Ratanavana Arama Lasem

Vihara Ratanavana Arama Lasem

Vihara ini terletak di Desa Sendangcoyo Kecamatan Lasem, kurang lebih lima kilometer ke arah Wisata Alam Kajar, berada di daerah perbukitan (sekitar 120 m di atas permukaan air laut). Di lokasi ini terdapat banyak sekali fasilitas sarana dan prasarana peribadatan dengan ornamen-ornamen yang unik dan menarik, dengan pemandangan lepas laut, pegunungan, dan hamparan sawah/tegalan/perkebunan yang luas. Di perbukitan paling atas ada area makam Bhiksu/Bante I (pendiri/pengelola vihara), yang meninggal dunia pada tahun 2000. Di lokasi makam didirikan candi (menyerupai Candi Borobudur) seluas kurang lebih 500 M2dengan empat pintu dari arah Barat, Timur, Selatan, dan Utara. Obyek dan Daya Tarik Obyek utama pada obyek wisata budaya ini adalah Vihara Ratanavana Arama itu sendiri. Daya tarik yang paling kuat dimiliki oleh obyek wisata adalah latar belakang sejarah, budaya, serta aspek keagamaan yang dimiliki oleh Vihara Ratanavana Arama. Bangunan utama di Vihara Ratanavana Arama ialah berupa candi yang merupakan makam Bhante Sudhammo Mahathera, ialah point interest dari obyek. Artikel berikutnya »
Pasujudan Sunan Bonang

Pasujudan Sunan Bonang

Pasujudan Sunan Bonang berada di desa Bonang, Kecamatan Sluké, Kabupatèn Rembang. Jaraké 17 km dari kota Rembang sampai menuju ke arah timur jurusan Surabaya. Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim) meninggal tahun 1525 diusia 60 tahun. Tetapi, ada pendapat lain yang mengatakan, jika makam Sunan Bonang ada di wilayah Tuban atau Madura, Jawa Timur. Tepatnya ada di depan pesisir Binangun. Jika hendak bepergian kesana, harus naik anak tangga terlebih dahulu, karena tempatnya sangat tinggi sekali. Pasujudan Sunan Bonang itu berwujud batu yang ada bekas sujudnya Sunan Bonang. Menurut cerita masyarakat disana, pasujudan Sunan Bonang zaman dahulu itu adalah batu yang digunakan sujud oleh Sunan Bonang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sujudnya Sunan Bonang itu sangat lama sekali, sehingga batu tersebut membekaspalapannya Sunan Bonang. Sekarang Pasujudan Sunan Bonang tersebut dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Sunan Bonang atau disebut Raden Makdum Ibrahim (Ampèl Denta, Surabaya 1465-Tuban 1525)yaitu putranya Sunan Ampèl dari istri yang namanya Dwi Candrawati.Sunan Boanang (Maulana Ibrahim) yaitu sepupunya dari Sunan Kalijaga yang dikenal dengan sebutan pencipta gending yang pertama.Sebelumnya ada di bidang dakwah, Sunan Bonang sering nuntut ilmu (belajar) ada di Pasai, setelah dari Pasai.Sunan Bonang ngadegaké pondok pesantren ana ing tlatah Tuban.Santri yang belajar di pesantren Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), berasal dari tempat Nusantara. Dalam pelaksanaan dakwahnya Maulana Makhdum Ibramim (Sunan Bonang) mempunyai ciri, yaitu dengan cara mengubah nama-nama Dèwa dengan nama-nama malaikat yang dikenali di dalam ajaran agama Islam. Di dalam pesantrèn bisa ngupaya bisa pengatutnya jarang di agama Hindu dan Budha yang dikenal sudah dianut sebelumnya. Fasilitas yang tersedia di sini adalah: Batu bekas tempat bersujud Sunan Bonang, Bekas kediaman Sunan Bonang, Joran Pancing milik Sunan Bonang, Makam-makam kuno lainnya. Artikel berikutnya »
Masjid Jami' Lasem

Masjid Jami' Lasem

Pendiri Masjid Jami' Lasem Masjid Jami' Lasem didirikan pada tahun 1588 dengan gaya arsitektur jawa kuno yang puncak joglonya terdapat terdapat makutapraba. latar belakang didirikan masjid jami' Lasem itu dulu selain untuk pusat keagamaan islam,juga karena pada masa itu Kadipaten Lasem melakukan pembangunan yang seperti arahan kerajaan mataram pada saat itu. yaitu : - Melakukan pembangunan masjid sebagai pusat syiar agama islam. - Membangun pasar sebagai pusat perekonomian (pasar kawak, sumurkepel sumber girang) - Membangun Alon2 sebagai pusat kegiatan, dulu ditandai dengan pohon ringin yg besar & rindang (skrg jdi Ruko2 / toko2) - pusat pemerintahan (kadipaten) yang berdekatan dgn itu (cologowok soditan) semuanya itu pada masa adipati Tejakusuma I dan seorang ulama yaitu Sayyid Abdurahman. R.M. Tejakusuma adalah trah asli keturunan Lasem yaitu anak dari Pangeran Santiwira bin Pangeran Kusumabadra bin Santipuspa (kakak Sunan Kalijaga) & jika ditarik keatas terus maka sampai trah majapahit dari dewi indu. R.M Tejakusuma I mempunyai nama lain Kyai Ageng Punggur dan Raden Bagus Srimpet. karena kebijaksaan, keceradasan & keilmuannya, Beliu juga diambil menantu oleh Sultan Pajang yaitu Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir). R. M Tejakusuma I wafatpada usia 77 tahun dan di makam kan di sebelah barat masjid jami' Lasem. Sayyid Abdurahman adalah walinegara (Guru Agama Islam) di Lasem yang di ambil dari Tuban. beliu adalah keturunan Sunan Pwa Lang dari Tuban, yang dipanggil di Lasem oleh R.M Tejakusuma untuk diangkat sebagai Walinegara Kadipaten Lasem dan juga diambil sebagai menantu. beliu mempunyai juga mempunyai nama lain Syech Maulana Sam Bwa Asmarakandhi atau biasa dikenal Mbah Sambu. dari Sayyid Abdurahman terlahir ulama2 besar yang ada seluruh penjuru di jawa. Beliu meninggal di Lasem dan di makamkan di sebelah utara Masjid Jami' LASEM. Berkat jasa adipati R.M Tejakusuma I (MBah Srimpet) dan juga Walinagara Sayyid Abdurahman (MBah Sambu) inilah LASEM bisa mempunyai sebuah masjid untuk tempat beribadah agama islam di Lasem hingga bisa bertahan sampai saat ini. Artikel berikutnya »
Tentang Kecamatan Lasem

Tentang Kecamatan Lasem

Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Indonesia. Merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang. Lasem dikenal juga sebagai "Tiongkok kecil" karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan tionghoa yang sangat banyak. Di Lasem juga terdapat patung Buddha Terbaring yang berlapis emas. Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani. Selain itu Lasem juga dikenal sebagai kota santri, kota pelajar dan salah satu daerah penghasil buah jambu dan mangga selain hasil dari laut seperti garam dan terasi. Geografi Kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan di pesisir pantai laut Jawa di kabupaten Rembang, berjarak lebih kurang 12 km ke arah timur dari ibukota kabupaten Rembang, dengan batas-batas wilayah meliputi: Sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa, Sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Sluke, Sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Pancur, Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Rembang. Kecamatan Lasem mempunyai luas wilayah mulai dari pesisir laut Jawa hingga ke selatan. Di sebelah timur terdapat gunung Lasem. Wilayahnya seluas 4.504 ha. 505 ha diperuntukkan sebagai pemukiman, 281 ha sebagai lahan tambak, 624 ha sebagai hutan milik negara. Letaknya yang dilewati oleh jalur pantura, menjadikan kota ini sebagai tempat yang strategis dalam bidang perdagangan dan jasa. Pemerintahan Kantor Kecamatan Lasem Sekarang ini, Lasem hanya berbentuk Kecamatan. Kantor Kecamatan terletak di Jalan Sunan Bonang Km.01 atau Jalan Lasem-Tuban. Kecamatan Lasem terdiri atas 20 desa yang terbagi ke dalam 84 Rukun Warga (RW) dan 219 Rukun Tetangga (RT). Dengan ibukota kecamatan di desa Soditan. Adapun desa-desa tersebut adalah: Babagan, Binangun, Bonang, Dasun, Dorokandang, Gedongmulyo, Gowak, Jolotundo, Kajar, Karangturi, Karasgede, Ngargomulyo, Ngemplak, Selopuro, Sendangsari, Sendangcoyo, Soditan, Sriombo, Sumbergirang, Tasiksono. Empat desa diantaranya berada di lereng gunung Lasem yaitu desa Gowak, Kajar, Sengangcoyo dan Ngargomulyo sedangkan 5 desa diantaranya merupakan desa pesisir yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Lima desa tersebut adalah; Bonang, Dasun, Binangun, Gedongmulyo dan Tasiksono. Dan 8 desa masuk dalam kawasan kota Lasem, yaitu: Dorokandang, Karangturi, Soditan, Gedongmulyo, Ngemplak, Babagan, Jolotundo dan Sumbergirang. Demografi Jumlah penduduk kecamatan Lasem sejumlah 47.868 jiwa (tahun 2005). 23.846 jiwa diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan sisanya 24.022 perempuan. Sebagian besar penduduknya bermata pencarian sebagai petani, pedagang dan nelayan. Dibidang pendidikan, di kecamatan Lasem terdapat: 33 Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudlatul Athfal, 35 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, 10 Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, 5 Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, 4 Sekolah Menengah Kejuruan, 18 Pondok Pesantren. Dibidang keagamaan, di kecamatan Lasem terdapat 31 masjid, 130 mushalla dan 11 gereja Kristen, 12 Gereja Katholik, 3 klenteng dan 3 wihara (1 wihara tak berpemeluk). Etnis yang tersebar di Lasem adalah suku Jawa, suku Tionghoa-Indonesia, keturunan Campa dan perpaduan etnis-etnis tersebut yang melahirkan etnis Lasem. Selain itu juga ada etnis lain sebagai pendatang di kota Lasem seperti orang Sunda, Batak, dll. Julukan Kota Sebagai sebuah kota yang unik dan menjadi perhatian bagi para peneliti baik dalam negeri maupun luar negeri, Lasem mempunyai predikat atau julukan yang tidak sedikit. Lasem Kota Santri Masjid Jami' Lasem Sejak dahulu kota kecamatan ini terkenal sebagai Kota Santri. Peninggalan pesantren-pesantren tua di kota ini dapat kita rekam jejaknya hingga sekarang. Banyak ulama-ulama karismatik yg wafat di kota yg terkenal dgn suhu udara yg panas ini. Sebut saja Sayid Abdurrahman Basyaiban (Mbah Sambu) yang kini namanya dijadikan jalan raya yg menghubungkan Lasem-Bojonegoro, KH. Baidhowi, KH. Khalil, KH. Maksum, KH. Masduki dll. Sebagian makam tokoh masyarakat Lasem ini dapat anda jumpai di utara Masjid Jami' Lasem. Maka tidak berlebihan jika Lasem berjuluk sebagai kota santri, mengingat banyaknya ulama, Pondok Pesantren dan jumlah santri yang belajar agama islam di kota ini. Pondok Pesantren tersebut antara lain: Al Wahdah (Sumbergirang), Al Hidayah (Soditan), Al Hidayah Putri (Soditan), At Taslim (Soditan), Al Islah (Soditan), Al Mashudi (Soditan), Al Hamidiyyah (Soditan), Al Fakriyyah (Sumbergirang), Ash Sholatiyah (Sumbergirang), Nailun Najah (Sumbergirang), An Nur (Soditan), Kauman (Karangturi), Al Hadi (Sumbergirang), Al Muyassar (Sumbergirang), Al Fatah (Ngemplak), Al Banat (Ngemplak), Al Aziz (Ngemplak), Raudlatut Thulab (Ngemplak), Pondok Caruban (Gedongmulyo). Lasem Kota Pelajar Banyaknya Pondok Pesantren berimbas pada bidang pendidikan umum. Tercatat banyak Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di kota ini. Sekolah-sekolah itu antara lain: SMA Negeri Lasem, MA Negeri Lasem, SMA Muhammadiyah, MA Nahdlatul Ulama, SMK Nahdlatul Ulama, SMK Muhammadiyah, SMK Avicena, SMK Cendekia, MAAl Hidayah, SMP Negeri 1 Lasem, SMP Negeri 2 Lasem, SMP Negeri 3 Lasem, MTs Negeri Lasem, MTs Sunan Bonang, MTs An-Nuriyah, SMP Muhammadiyah, SMP Nahdlatul Ulama, SMP Katholik Hamong Putra, SMP Kristen Dorkas. Sekolah-sekolah di Lasem tak kalah saing dengan sekolah-sekolah yang mendapat perhatian lebih dari pemkab seperti sekolah-sekolah di Rembang. Prestasi sekolah-sekolah di Lasem pun kerap kali mengharumkan nama 'Lasem' bahkan sampai ke jenjang Nasional bahkan Internasional. Selain itu, satu-satunya SMA Negeri di Lasem (SMA N 1 Lasem) mendapatkan predikat sebagai SMA Budaya dan SMA Pioner Nasionalisme. Lasem Kota Tiongkok Kecil Deretan bangunan bergaya Tiongkok di Pecinan desa Karangturi, Lasem Salah satu tempat berkembangnya para imigran dari Tiongkok terbesar di Pulau Jawa abad ke-14 sampai 15 adalah Lasem (Lao Sam) selain di Sampotoalang (Semarang) dan Ujung Galuh (Surabaya). Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa sebagai duta politik Kaisar China masa Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan negeri tersebut, mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas perniagaannya dan kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa. Bahkan menurut N.J. Krom, perkampungan China d masa Kerajaan Majapahit telah ada sejak 1294-1527 M. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan tua seperti permukiman Pecinan dengan bangunan khas Tiongkoknya dan kelenteng tua yang berada tak jauh dari jalur lalulintas perdagangan di sepanjang aliran Sungai Babagan Lasem (kala itu disebut Sungai Paturen) yang pada waktu itu sebagai akses utama penghubung antara laut dan darat, juga penguasaan tempat-tempat perekonomian yang strategis oleh mereka di kemudian waktu, seperti yang dapat dilihat pada pusat-pusat pertokoan di sepanjang jalan raya kota sekarang ini. Lasem Kota Batik Dalam beberapa literatur tentang batik juga yang terdapat di museum batik naseional, batik Lasem disebutkan sebagai salah satu varian klasik atau biasa disebut pakem dangan pola dan corak yang punya kekhasan tersendiri, yaitu paduan warna yang berani dan mencolok dengan motif-motif yang beraneka macam dan khas tetapi tetap indah serta elegan. Batik tersebut populer dengan sebutan batik tulis kendoro kendiri atau batik Pesisiran Laseman, di mana batik ini berbeda dengan batik Jogja atau Solo yang sangat baku pada pakem keraton yang motifnya eksklusif dan khusus bagi golongan ningrat saja. Batik Laseman sangat liat bercirikan egalitarian, yang mana batik ini lebih terbuka atau umum penggunaannya bagi segala kalangan atau lapisan masyarakat berikut macam etnisnya. Konon perkembangan Batik Laseman ini dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya negeri seberang, yaitu Tiongkok dan Campa. Banyaknya orang-orang China dan Campa yang menetap di Lasem dan membaur dengan penduduk lokal lambat laun melahirkan akulturasi kebudayaan yang positif dan kaya, salah satunya adalah seni batik itu sendiri. Batik Laseman sendiri pernah mengalami kejayaan dalam produksi dan pemasarannya. Kini Batik Laseman bisa kita temukan di sudut-sudut kota Lasem bahkan di daerah sekitar Lasem. Budaya Secara historis, budaya di Lasem merupakan perpaduan budaya dari masyarakat pribumi (Jawa), Tiongkok & Campa (dibawa oleh pasukan Laksamana Cheng Ho), Arab, dan Belanda. Wujud nyata dari perpaduan budaya ini dapat kita temui sampai detik ini pada batik Lasem motif Tiga Negeri maupun Empat Negeri. Dialek: Dialek masyarakat Lasem yang dikenal adalah sebagai berikut: - em / - nem = mu (bahasa Indonesia). Contoh: Bukuem/Bukunem = Bukumu; Tanganem = Tanganmu; Nggonem/Nggonanem = Punyam; dll (hurup "e" di kata em dibaca seperti kata "e" di kata perahu atau selasa) - leh = toh (bahasa Indonesia). Contoh: Piye leh iki? = Gimana toh ini?; Ndi leh bukune? = Mana toh bukunya?; dll (hurup "e" di kata leh dibaca seperti kata "e" di kata etnis atau polsek) - ape (jw: arep) = akan (bahasa Indonesia). Contoh: Sampeyan ape ning ndi leh? = Kamu mau/akan kemana toh? (hurup "e" di kata ape dibaca seperti kata "e" di kata tempe atau cafe) - ae (jw: wae) = saja (bahasa Indonesia). Contoh: Sakcingkir ae = satu cangkir saja; Bar ning ndi ae leh? = Habis kemana saja toh? (hurup "e" di kata ae dibaca seperti kata "e" di kata tempe atau cafe), - ugung/gung (jw: durung) = belum (bahasa Indonesia). Contoh: Aku ugung mangan/Aku gung mangan = Aku belum makan, dan masih banyak lagi. Dialek ini menyebar ke daerah-daerah sekitar Lasem yang kalau ditinjau dari segi historis dulu terletak di bekas wilayah Kerajaan Lasem maupun kadipaten Lasem. Selain di atas, banyak pula kata-kata di dialek Lasem yang merupakan serapan dari bahasa kaum tionghoa lasem, seperti Yan O (walet), Yong Swa (dupa), Dao Ke (bos) dll. Bahkan kata "Lasem" sendiri menurut beberapa ahli berasal dari kata "Lao Sam". Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan yang ada dan berkembang pesat di Lasem antara lain: Laesan Lasem, Thong-thong Klek, Wayang Krucil, Wayang Kotehi/Potehi (Bu dai xi), Seni Pagelaran Barongsai & Leang Leong (Liong), Jaran Kepang & Barongan, Wayang Wong/Wayang Orang, Tayub, Ketoprak, dll. Event (Acara) Haul Mbah Sambu (Sayid Abdurrahman Basyaiban/Pangeran Sam Bua Syayid Ngabdurrahman) Penjamasan Bende Becak (Acara Selonan/di Bulan Selo (Bulan ke-11 pada kalender Jawa Hijriyah) di Desa Bonang Kirab Budaya Mak Co Tian Siang Sheng Bo Festival Lasem Lasem Batik Carnival Sedekah Bumi / Bersih Desa Sedekah Laut / Lomban, dll Seni Rupa Orang sedang membatik batang rokok (nglelet) Batik Lasem yang khas dan berbeda dengan batik dari daerah lain Lelet, yaitu membatik dengan media batang rokok dan tintanya menggunakan lethekan kopi lelet (ampas kopi lelet/kopi lasem yang dicampur susu krimer) Kerajinan Kuningan Seni Arsitektur Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Lasem Arsitektur bangunan-bangunan yang khas di Kota Lasem, antara lain: Bangunan Klenteng Cu An Kiong, di timur Sungai Lasem, Bangunan Klenteng Po An Bio, di utara Sungai Kemendung, Bangunan Klenteng Gie Yong Bio, di barat Sungai Lasem, Bangunan Masjid Jami' Lasem, di pusat kota Lasem, Bangunan Masjid Bonang dan Kompleks Pasujudan Sunan Bonang, di desa Bonang, Bangunan kompleks Vihara Ratanavana Arama, di bukit Telueng desa Sendangcoyo, Bangunan Rumah Candu (Lawang Ombo), di selatan Cu An Kiong, Bangunan Vihara Karunia Dharma, di timur Cu An Kiong, merupakan Vihara tak berumat Bangunan-bangunan kuno di Pecinan Karangturi, Soditan, Babagan, Gedongmulyo, dan Sumbergirang Bangunan bekas Stasiun Lasem, di desa Dorokandang, Bekas tembok Taman Sitaresmi di Caruban Gedongmulyo, Potensi Wisata Sebenarnya banyak sekali potensi wisata di Lasem, namun sangat sedikit yang memajukan potensi wisata tersebut. Perlu adanya donatur dan investor yang tidak sedikit demi meningkatkan potensi wisata di kota Lasem. Potensi Wisata Alam Pantai Gedong/Pantai Caruban, di Caruban Gedongmulyo Pantai Dasun, di Dasun Pantai Binangun, di Binangun (Kawasan Wisata BBS/Bonang-Binangun-Sluke) Watu Layar, di Binangun Goa Kajar, di Kajar Sumber Mata Air Kajar, di Kajar Curug Kalimancur, di Gowak Perbukitan Gowak-Kajar-Ngargomulyo-Sendangcoyo Pendakian Gunung Lasem, dll Potensi Wisata Batik Lasem terkenal sebagai Kota Batik terutama Batik Tulis Laseman. Hampir di setiap desa dijumpai pengrajin batik. Namun pusat-pusat industri batik terletak di Babagan, Gedongmulyo, Karangturi, Karasgede, Soditan, Ngemplak, dll. Selain itu juga terdapat di beberapa desa di sekitar Lasem yang terkenal sebagai desa wisata Batik Laseman seperti di Pohlandak, Dukuh Ngropoh Pancur, Karaskepoh, Doropayung. Potensi Wisata Belanja PANTES Mall, di Jalan Sunan Bonang Km.0 Pasar Lasem Kompleks Pertokoan Alun-alun Lasem Potensi Wisata Religi Pasujudan Sunan Bonang dan Makam Putri Campa Kompleks Masjid Jami' Lasem Masjid desa Bonang Vihara Ratanavana Arama, di bukit Telueng desa Sendangcoyo Bangunan Klenteng Cu An Kiong, di timur Sungai Lasem Bangunan Klenteng Po An Bio, di utara Sungai Kemendung Bangunan Klenteng Gie Yong Bio, di barat Sungai Lasem Pondok-pondok Pesantren di Lasem Potensi Wisata Sejarah Banyak sekali situs-situs sejarah di area bekas Kerajaan Lasem, Kadipaten Lasem, maupun pada masa kedatangan Tionghoa-Campa, VOC di Lasem bahkan situs arkeologi. Hampir semua situs sejarah tersebar di kawasan kota Lasem dan sekitarnya. Peninggalan Bersejarah Prasejarah Situs Kapal Kuno di Punjulharjo, terletak di bagian barat Sungai Kahiringan. Dulu daerah ini masih masuk kawasan Lasem, namun sekarang terletak di Kec.Rembang. Kapal yang ditemukan merupakan Bangaki Kapal Utuh beserta perabotan dan arca kepala, berdasarkan perhitungan secara radiokarbon diketahui bahwa kapal dari abad ke-7 M. Situs Tulang-belulang Manusia Purba Austonesia di daerah Bonang-Leran Situs Purbakala Plawangan dan Terjan Pada Masa Kerajaan Lasem Peninggalan Benda Bergerak: Lingga Arca Nandi (di Situs Gebang, Warugunung) Arca Ganesa (di Situs Sawah Candi dukuh Sulo, Sriombo Arca Anjing (di Situs Sawah Kepatihan, Ngemplak Perhiasan abad 14-15 berupa emas dan binggal (di Situs Hutan Sangkrah, Kec. Bulu) Keramik China abad 14 (di Ngankatan, Pancur) Gerabah dan Barang pecah-belah abad ke-14 (di Caruban, Gedongmulyo) Mata Uang China abad 14 (di Sukorejo dan Tegaldowo Benda-benda tersebut kebanyakan sekarang berada dan diteliti di Dinas Kepurbakalaan Nasional Jakarta. Peninggalan Benda tak Bergerak: Goa pertapaan (di desa Kajar) Prasasti Batu Tapak (di desa Kajar) Sumur-sumur tua Pondasi-pondasi Bangunan (terbuat dari bata merah berukuran 20cm-40cm) Bekas Pelabuhan Kahiringan di daerah Caruban, Gedongmulyo dan Pelabuhan Teluk Regol di Bonang. Jangkar kapal Tua abad 14 di Rumah Candu/Lawang Ombo, diduga milik Kapitan Liem. Peninggalan Seni dan Budaya: Gending karawitan Pathet Lasem dan Sampak Lasem Relief-relief dan arca yang ada di reruntuhan candi motif batik klasik batik Laseman Seni Beladiri Pathol (sekarang berkembang pesat di daerah Kragan dan Sarang). Pada Masa Kadipaten Lasem Peninggalan Tak Bergerak: Lokasi Bekas Istana Kadipaten Lasem di Binangun Bangunan Masjid Kuno (Masjid Bonang; Masjid Tiban, Gedongmulyo; masjid Kalipang, Sarang) Bangunan Klenteng tua (Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun) Bekas Pemukiman (di Bonang, Ngenden, dan Caruban) Kompleks makam kuno (di Bonang, Caruban, Lohgading, dan Nggodo Situs Sunan Bonang Masjid Jami' Lasem Klenteng Tan Dele Siang Sheng/Biong Bio di Babagan Makam adipati-adipati Lasem Makam Raden Panji Margono, panglima Perang Kuning antara rakyat Lasem (Tionghoa+Pribumi) melawan VOC Benteng VOC di Bukit Gebang, Warugunung Bangunan Kabupaten Lasem di dukuh Tulis, Selopuro Peninggalan Bergerak: Kitab Suluk pada masa Sunan Bonang Serat Sabda Badra Santi oleh Adipati Tejakusuma I dan Tejakusuma IV, kemudian digubah kembali oleh R. Panji Kamzah 1825 dan R. Panji Karsono 1920. Alat musik Bonang/Bende lengkap dengan pemukulnya di Kompleks Petilasan Sunan Bonang Seni pagelaran wayang Krucil dan wayang Potehi Artikel berikutnya »
Emping Jagung

Emping Jagung

$3.00
Emping Jagung Asin Gurih Ternyata bukan hanya dari melinjo saja emping bisa dibuat, jagung pun cukup populer juga jenis empingnya, melinjo dan jagung memiliki kandungan pati yang cukup padat oleh karena itu kedua jenis biji bijian ini bisa diolah menjadi makanan emping. Bukan hanya di Indonesia saja emping jagung dikenal ternyata di luar negeri makanan ini sudah sangat familier keberadaannya, hanya beda nama yang dikenal secara Internasional adalah Corn Flakes. Jagung ini di beberapa Negara menjadi sumber makanan utama termasuk di daerah Indonesia seperti contoh Madura dan Nusa Tenggara, pada Negara maju jagung menjadi salah satu sumber makanan alternatif yang selalu ada di daftar menu makanan sehari hari sebagai pemenuhan kebutuhan karbohidrat dalam tubuh. Jenis jenis makanan olahan dari bahan baku jagung termasuk sangat banyak variasinya termasuk salah satunya adalah produk emping jagung asin gurih ini. Jagung juga bisa diolah menjadi tepung yang dinamakan Maizena dimana banyak digunakan sebagai bahan pembuatan ataupun campuran pada kue, selain itu bulir jagung juga bisa diambil minyaknya (minyak jagung). Jagung memiliki kandungan gizi dan nutrisi yang padat yang memiliki beragam kegunaan bagi kesehatan tubuh manusia, serat yang terkandung didalam jagung berguna melancarkan sistem pencernaan sehingga mampu membantu mencegah berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan sistem dalam pencernaan. Didalam jagung didapati kandungan Betakaroten dan Antioksidan, dimana kedua unsur tersebut berguna bagi penglihatan dan pencegahan efek radikal bebas. Selain itu jagung dipercaya bisa menurunkan Hipertensi, mengendalikan Diabetes dan penyakit jantung. Berjuta kegunaan jagung bagi kesehatan tubuh manusia sehingga makanan ini menjadi suguhan utama menu sehari hari yang baik, aman dan bermanfaat untuk kesehatan.
Add to Cart
Putu Ayu

Putu Ayu

$0,2.00
Cara Membuat Kue Putu Ayu Empuk Lembut Manis tidak serumit saat melihat tampilan cantiknya, sangat mudah dan gampang. Kue Tradisional yang hingga saat ini masih menjadi kudapan nikmat dan terkenal ini memang mempunyai tampilan yang cantik, tekstur yang lembut, rasa yang manis yang menjadi ciri khasnya. Jajanan Pasar tradisional ini masih sering dijumpai sebagai oleh-oleh pasar ibu-ibu saat pulang dari belanja. Nah gimana sih cara membuatnya? Penasaran? Simak aja yuk resep special yang satu ini. Bahan-bahan untuk Kue Putu Ayu : • 250 gram gula pasir • 4 butir telur • 1 sendok teh Emulsifier Kue • 300 gram Tepung terigu • 250 ml Santan Kental • Pasta pandan secukupnya (lebih baik gunakan air daun suji jika ada) • 1 butir kelapa diparut • 1 sendok teh garam (aduk rata) Cara Membuat Kue Putu Ayu Empuk Lembut Manis : 1. Kocoklah campuran gula pasir, telur, dan emulsifier kue hingga mengembang sempurna. 2. Tambahkan tepung dan santan secara bergantian, masukkan sedikit demi sedikit, aduk hingga rata. 3. Selanjutnya masukkan pasta pandan secukupnya, aduk hingga rata. 4. Persiapkan cetakan kue putu ayu, olesi permukaan dalam cetakan dengan minyak, masukkan parutan kelapa lalu tekan-tekan, tuangkan adonan hingga kira-kira 3/4 cetakan. 5. Kukus adonan dalam cetakan selama 20 menit, setelah matang Kue Putu Ayu siap disajikan. Tips-tips untuk hasil Kue Putu Ayu yang sempurna : 1. Panaskan kukusan (panci/dandang) hingga air mendidih. 2. Kukus terlebih dahulu parutan kelapa agar lebih tahan lama atau tidak mudah basi. 3. Lapisi tutup kukusan (panci/dandang) dengan serbet/kain bersih agar adonan tidak terkena tetesan uap. 4. Mengocok adonan harus benar-benar mengembang sempurna, kental pekat, tandanya jika kocokan diangkat hasil kocokan tidak jatuh. Nah benar-benar mudah kan? Tunggu apa lagi? Selamat mencoba dan berkreasi.
Add to Cart
Sirup Kawista

Sirup Kawista

$4.00
Jika Anda singgah di Kota Rembang, Jawa Tengah, belilah oleh-oleh "Siroop Kawis". Aroma dan cita-rasanya khas, harum segar manis tiada tandingan. Sebab, bahan siroop dibuat dari buah asli, Kawis. Yang memprihatinkan, pohon Kawis di daerah itu kini mulai langka. Jika tak diperhatikan, niscaya suatu saat bisa punah. Saat penulis sekolah SR-SMP di Rembang (1960), masih banyak dijumpai pohon Kawis (limonia acidissima), di pekarangan rumah warga Tionghoa (Kp.Grajen). Dua klenteng di kota itu, di halamannya juga tumbuh pohon Kawis. Saking lezatnya, buah ini dinilai hanya pantas disantap raja. Buah Kawis menjadi buah persembahan utama pada setiap ritual persembahyangan besar di Klenteng Rembang. Waktu itu, di setiap halaman/pekarangan rumah warga Tionghoa, dari Grajen sampai Tawangsari dan kampung lain, tumbuh belasan sampai puluhan pohon Kawis yang cabangnya penuh duri itu. Pohon-pohon Kawis, tegak berdiri di antara kandang Babi. Saat masih muda, kulit batok buah Kawis seakan dibalut bedak putih. Setelah masak seukuran kepalan orang dewasa, batoknya berwarna coklat tua dan sangat keras. Kawis masak dibiarkan jatuh ditanah berminggu-minggu. Baru dipunguti pemiliknya, setelah semua jatuh dari pohon, lalu dijual pada pabrik lemon setempat. Waktu itu pabrik lemon paling terkenal merk "Ayam Jago", berdiri tahun 1950-an di Jl Diponegoro Rembang. Produk lemon Kawis-nya yang sangat terkenal saat itu, populer disebut "rasa moca" (sejenis "kola", sekarang). Karena lemon kalah oleh produk minuman modern seperti dikonsumsi masyarakat sekarang, membuat pabrik-pabrik lemon di daerah Rembang bangkrut. Termasuk pabrik lemon di Jl Diponegoro ikut ambruk, tetapi bangkit lagi sampai kini dengan merk baru dan produk baru bderupa, "siroop bercita rasa khas yaitu Kawis" dari bahan buah Kawis tulen. Siroop Kawis Rembang kini terkenal secara nasional. Karena siroop Kawis ini pula, daerah Rembang dikenal di mana-mana. Produk siroop Kawis, sekarang menjadi ikon Kabupaten Rembang. Belum ada daerah lain di Indonesia bahkan di dunia, memproduksi siroop dengan aroma dan cita rasa Kawis. Kepopuleran siroop Kawis Rembang, sampai AS dan Finlandia, ucap Swie Ging teman sekelas penulis di SD dulu. Terancam Punah Dua puluh tahun ini, tanaman Kawis yang asal India (Indian Woodapple) di daerah Rembang mulai langka, kata Swie Ging. Terpisah, Mulyono dari Dinas Pertanian-Kehutanan Rembang, membenarkannya. Menurut gelagat saat ini, suatu saat tanaman Kawis di Rembang akan punah. Kecuali jika semua pihak terkait, serius melakukan langkah penyelamatan, kata Swie Ging lagi. Menurut Mulyono, kian jarangnya pohon Kawis akibat dari berbagai faktor. Antara lain, lahannya terdesak oleh bangunan perumahan. Selain itu masyarakat menganggap sebagai tanaman kurang menguntungkan secara ekonomis. Lagi pula siklus pertumbuhannya relatif lama, dari sejak bibit ditanam sampai memetik buahnya, terentang waktu 10 tahun. Sampai tahun 1990, pohon Kawis masih banyak tumbuh di Rembang dan Lasem (11 Km Timur Rembang). Sejak itu sampai sekarang, jumlah tegakan pohon tersebut makin berkurang mendekati langka. Buah Kawis yang dagingnya berwarna coklat-kehitaman dan rasanya amat manis, kini makin sulit dibeli dipasar tradisional Rembang maupun Lasem.
Add to Cart
Dumbeg

Dumbeg

$0,2.00
DUMBEG Kalian tentu pernah mendengar atau mencicip makanan tradisional ini kan ? Ya, Dumbeg. Makanan ini dibuat dari tepung beras, gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam, air nira (legen) dan kalau suka ditaburi buah nangka/kelapa muda yang dipotong sebesar dadu. Kemudian tempatnya dari daun lontar (pohon nira) berbentuk kerucut dengan bau yang khas. Dumbeg sering dijumpai pada saat ada acara sedekah bumi, yaitu acara syukuran sebagai tanda syukur atas hasil bumi yang diperoleh. Bagi anda yang ingin makan dumbeg ini cara pembuatannya: Bahan Resep Dumbeg: • 1 l Santan kental • 250 gr Gula pasir • 1 sdt Garam • ½ kg Tepung beras • 2 sdm air kapur sirih • 30 lb Daun lontar/daun pisang Cara Membuat Resep Dumbeg: • Campur santan kental, gula pasir, dan garam. Rebus hingga mendidih, angkat, biarkan hingga suam-suam kuku • Campurkan tepung dengan air kapur sirih, aduk rata. Masukkan santan, aduk rata. Adonan harus cair • Buat contong berbentuk kerucut dari daun lontar. Isi dengan adonan. Kukus hingga matang, angkat • Sajikan dalam piring saji Dumbeg juga bisa dikreasikan dengan berbagai macam rasa, bisa rasa strowberi, coklat. dll. sesuai dengan keinginan. Caranya cukup dengan menambahkan sirup atau buah yang di inginkan.
Add to Cart
Pepes / Brengkes Ikan

Pepes / Brengkes Ikan

$1,3.00
Nah makanan yang satu ini tidak kalah enaknya, Pepes Ikan atau dalam bahasa jawa bisa disebut ikan brengkes. Makanan yang satu ini dimasak dengan cara dibungkus dengan daun pisang, kemudian ada yang dimasak dengan dipanggang maupun di kukus. Berikut Bahan-bahan/bumbu-bumbu dan langkah2 pembuatan pepes ikan: • 6 ekor ikan nila ukuran kecil • 1 sendok teh air jeruk nipis • 750 ml air • 1 batang serai, diambil putihnya, dimemarkan • 2 lembar daun salam, disobek-sobek • 2 ikat kecil daun kemangi, dipetiki • 1 ikat kecil daun kemangi untuk memepes • 2 lembar daun salam, masing-masing potong tiga, untuk memepes • 2 tangkai serai, masing-masing potong tiga, untuk memepes • daun pisang untuk membungkus • tusuk gigi Bumbu Halus: • 12 butir bawang merah • 3 siung bawang putih • 6 buah cabai merah besar • 3 buah cabai rawit merah • 6 buah kemiri sangrai • 2 cm kunyit, dibakar • 1 sendok makan garam • 1 sendok teh gula pasir • 1/2 sendok teh ketumbar Cara membuat: 1. Lumuri ikan dengan air jeruk nipis. Diamkan 15 menit. 2. Rebus ikan nila bersama bumbu halus, serai, daun salam, dan daun kemangi sampai meresap. Setelah dingin simpan dalam frezzer 3. Saat akan disajikan, lelehkan ikan. Ambil daun pisang, taruh sepotong selama, sepotong serai, ikan dan bumbunya. Tata kemangi di atasnya. 4. Bungkus pepes. Semat dengan lidi. 5. Bakar pepes hingga kecokelatan.
Add to Cart
Lontong Tuyuhan

Lontong Tuyuhan

$1,5.00
Lontong tuyuhan, salah satu makanan khas daerah Rembang yang sudah dikenal banyak orang. Disebut lontong tuyuhan karena pembuat dan penjual makanan ini dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur.Ingin tahu rasanya, datang sendiri di pusatnya di tepi jalan desa beraspal jurusan Lasem-Pandan, tepatnya yang melintas di Desa Tuyuhan. Di situ banyak berjajar penjual makanan tersebut nikmat. Itulah komentar yang sering diucapkan banyak orang usai jajan. Betapa tidak, pengunjung yang datang bisa makan sambil berekreasi.Sebab, para penjual sengaja membuka usahanya di tepi jalan yang jauh dari perkampungan penduduk dengan latar belakang pegunungan dan persawahan yang lebat tanaman padi.Para pendatang yang jajan benar-benar bisa merasakan lezatnya makanan tersebut sambil menikmati pemandangan alam dan semilirnya angin desa yang tak banyak tercemar polusi kendaraan.Dengan suasana alam seperti itu pengunjung merasa betah duduk di kursi panjang (dhingklik) yang disediakan. Pembeli tak usah takut kepanasan kena sinar matahari, karena semua penjual berada di bawah tenda.Lebih unik lagi, semua menggunakan angkring dari bambu dan penjalin yang dilengkapi lampu penerangan tradisional (teplok), terbuat dari batang pisang. Dengan ciri khas itu orang lebih mudah mengenalnya.Jenis makanan lontong memang sudah banyak dikenal orang, tapi khusus lontong tuyuhan memiliki kelebihan rasa. Sebab, menunya tak sama dengan lontong yang dijual di tempat lain.Makanan khas itu terdiri atas lontong dengan sayur santan agak pedas yang menonjolkan rasa kemiri, jinten, dan bawang. Lauk pauknya ayam kampung yang sudah dipotong-potong komplet dengan jeroan dan tempe, yang diberi bumbu merah rasa pedas.Minumannya sederhana, yakni air kendi yang disediakan secara gratis. Namun, bagi pembeli yang tak biasa dengan minuman tradisional itu bisa pesan jenis lain, misalnya teh botol.
Add to Cart
Sayur Mangut

Sayur Mangut

$1.00
Sayur Mangut,,, Yahh inilah salah satu sayur khas dari kabupaten Rembang. Sayur mangut terkenal dengan kepedasannya, bukan karena cabenya yang banyak tapi yang membuat sayur mangut pedas adalah dari ikan panggang. Tapi rasanya mantap banget. Ok sobat bagi yang ingin merasakan kepedasan sayur mangut ini Resep Pembuatan Sayur Mangut: 1. BAHAN 1) Ikan panggang Pe(Terserah pembaca ingin menggunakan ikan panggang apa) 1/2 kg 2) Kelapa 1/2 butir 2. BUMBU 1) Bawang merah 4 buah 2) Kencur 1/4 rsj 3) Bawang putih 2 siung 4) Laos 1/4 rsj 5) Lombok merah 5 buah 6) Daun jeruk purut 1 lembar 7) Lombok hijau 5 buah 8) Terasi 1 sendok teh 9) Belimbing wuluh 6 buah 10) Garam 1 sendok makan 11) Ketumbar 1/2 sendok teh 3. CARA PEMBUATAN 1) Kelapa dibuat santan ½ gelas. 2) Lombok, bawang merah, bawang putih, belimbing wuluh diiris halus. 3) Bumbu-bumbu yang lain dihaluskan, laos dimemarkan. 4) Semua ditumis, ikan dimasukkan dan terakhir santan dimasukkan. 5) Dimasak sampai kental dan berminyak. Sayur mangut siap disajikan dan di makan,,, selamat mencoba :)
Add to Cart
Sayur Merica

Sayur Merica

$0,7.00
SAYUR MERICA, Masyarakat di sekitar daerah Lasem – Rembang, mungkin sudah tidak asing dengan namanya sayur merica. Cara membuatnyapun cukup mudah serta bahan yang dibutuhkan tersedia dimana saja. Inilah cara pembuatan sayur merica: # BAHAN 1. Ikan laut ½ kg # BUMBU 1. Bawang merah 5 buah 2. Kunyit 1/2 rsj 3. Bawang putih 2 siung 4. Asam 5 mata 5. Lombok merah 3 buah 6. Gula merah 1 sendok teh 7. Kemiri 5 butir 8. Terasi 1 sendok teh 9. Lada 15 butir 10. Garam 1 sendok makan # CARA PEMBUATAN 1. Ikan dibersihkan dan dipotong-potong. 2. Semua bumbu dihaluskan, direbus dengan air 4 gelas. 3. Bila air telah mendidih, ikan dimasukkan, direbus sampai masak. Keterangan : Dapat ditambahkan ketumbar dan jinten. Masakan ini lebih enak bila dimasak diperiuk yang dibuat dari tanah ; dihidangkan hangat-hangat.
Add to Cart
Batik Latoh

Batik Latoh

$25.00
Motif Batik Lasem Latoh merupakan kerajinan batik lasem yang motifnya menggambarkan bentuk tumbuhan latoh. Bentuknya unik karena menggambarkan flora di laut.
Add to Cart
Batik Aseman

Batik Aseman

$30.00
Motif Batik Lasem Aseman Batik Lasem Aseman adalah Batik Tulis Lasem yang motifnya mengedepankan stailisasi ornamen flora asam, khususnya keunikan daun asam. Biasanya ornamen daun asem diharmonisasikan dengan stailisasi ornamen fauna maupun flora lain. Batik Lasem Aseman termasuk salah satu motif Batik Lasem yang populer di kalangan pecintan batik nusantara, karena keberadaan Batik Lasem Aseman bisa diterima di berbagai kalangan.Wajar jika Batik Lasem Aseman acap dibuat dengan bahan katun prima, primis, bahkan sutera dengan tampilan satu warna, dua warna, ataupun tiga warna.Detail batikan Batik Lasem Aseman ada yang biasa dan ada juga yang halus luar biasa. Kesemuanya memiliki nilai artistik tersendiri, karena nilai seni selalu tergantung pada intepretasi.
Add to Cart
Batik Sekar Jagat

Batik Sekar Jagat

$10.00
Motif Batik Sekar Jagad adalah salah satu motif batik khas Indonesia. Motif ini mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Ada pula yang beranggapan bahwa motif Sekar Jagad sebenarnya berasal dari kata "kar jagad" yang diambil dari bahasa Jawa (Kar=peta; Jagad=dunia), sehingga motif ini juga melambangkan keragaman di seluruh dunia. Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri. Batik dengan media kain, malam dan canthing, masyaraka negeri ini khususnya daerah Jawa Tengah dan Yogyakartaterus berkarya memproduksi batik-batik yang semakin indah dan bernilai estetika tinggi, syarat makna dan filosofi yang merupakan kearifan lokal yang perlu kita pahami dan terus lestarikan. Keserasian dan Harmonisasi antar sesama hidup manusia, manusia dengan alam dan sang pencipta tertuang dalam motif batik yang indah, selain itu motif motif batik juga sarat akan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Salah satu yang terbaik dari motif-motif tersebut adalah Motif Sekar Jagad
Add to Cart
batik lasem

batik lasem

$30.00
Lasem adalah sebuah kecamatan yang terletak di pantai bagian utara Pulau Jawa, lebih tepatnya sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang. Kota ini, terkenal dengan sebutan Little Tiongkok. Hal ini dapat dilihat dari bangunan-bangunan tua yang berada di kecamatan ini. Detail-detail pada bangunan-bangunan ini didominasi oleh detail China. Selain terkenal dengan nama Little Tiongkok, Lasem ini juga identik dengan batiknya. Batik Lasem ini dikenal karena keunikan dari motif dan coraknya. Pada batik Lasem ini, terdapat akulturasi antara Jawa dan China. Menurut sejarah, awal masuknya batik ke Lasem ini adalah dari seorang anak buah kapal Laksamana Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un dengan isteri yang bernama Ibu Na Li Ni yang masuk di Lasem pada tahun 1400-an. Beliau menetap di Jolotundo, Bi Nang Un ini adalah ahli bertukang terutama dalam membuat kerajinan dari tembaga dan ukiran. Sedangkan ibu Na Li Ni, menularkan seni penulisan di kain menjadi seni tulis batik. Dahulunya seni lukis batik ini sudah ada di Jawa, jauh sebelum kedatangan kedua tokoh ini, namun karena sifatnya yang tidak komersil maka batik belum terlalu dikenal.
Add to Cart
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. lasemsyarifah.blogspot.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger